"Pendidikan adalah bekal terbaik untuk perjalanan hidup." Aristoteles

"Pendidikan adalah bekal terbaik untuk perjalanan hidup." Aristoteles

"Gelar sarjana bukan merupakan tanda produk jadi tetapi indikasi seseorang siap untuk hidup." Revere

"Gelar sarjana bukan merupakan tanda produk jadi tetapi indikasi seseorang siap untuk hidup." Revere

"Tidak ada lift untuk sukses. Kamu harus naik tangga." Zig Ziglar

"Tidak ada lift untuk sukses. Kamu harus naik tangga." Zig Ziglar

"Berjuang untuk sukses tanpa kerja keras seperti mencoba memanen ketika kamu belum menanam." David B

"Berjuang untuk sukses tanpa kerja keras seperti mencoba memanen ketika kamu belum menanam." David B

Latest Posts

Selasa, 01 Juni 2021

Sejarah Hari Lahir Pancasila

Admin
Jakarta - Tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila. Bagaimana sejarah lahirnya dasar negara itu. Berikut sejarah singkatnya. Istilah Pancasila mulai diperkenalkan di sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Sidang pertama BPUPKI berlangsung pada 29 Mei hingga 1 Juni tahun 1945. Pancasila kemudian ditetapkan ditetapkan sebagai dasar negara. Pancasila juga ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Berikut sejarah singkat hari lahirnya Pancasila: Sidang Pertama BPUPKI Dikutip dari website BPIP, Hari Lahir Pancasila bermula dari sidang pertama BPUPKI atau dikenal Dokuritsu Junbi Cosakai. Sidang pertama BPUPKI itu dibuka pada 28 Mei 1945, namun mengenai dasar negara dibahas pada hari berikutnya. Adanya sidang ini berawal dari kekalahan Jepang pada perang pasifik, Jepang kemudian berusaha mendapatkan hati rakyat Indonesia dengan menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia dan membentuk sebuah Lembaga yang tugasnya untuk mempersiapkan hal tersebut. Lembaga itu dinamai Dokuritsu Junbi Cosakai. Padang singa pertamanya di tanggal 29 Mei 1945 para anggota membahas mengenai tema dasar negara. Sidang pertama BPUPKI ini berjalan selama 5 hari. Pada rapat di tanggal 29 Mei 1945, Muhammad Yamin memberikan 2 usulan. Lima usulan yang disampaikan Muhammad Yamin sebagai dasar negara yaitu, Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Lahirnya Istilah Pancasila Pada 1 Juni 1945, Sukarno menyampaikan gagasan dasar negara yang dinamai Pancasila. Pada hari itu lahirlah istilah Pancasila. "Sukarno menyampaikan ide serta gagasannya terkait dasar negara Indonesia, yang dinamai "Pancasila". Panca artinya lima, sedangkan sila artinya prinsip atau asas," tulis BPIP melalui laman resminya dilihat Pembentukan Panitia Sembilan Guna menyempurnakan rumusan Pancasila dan membuat Undang-Undang Dasar yang berlandaskan kelima asas tersebut, maka BPUPKI membentuk sebuah panitia yang disebut sebagai panitia Sembilan. Berisi Ir. Sukarno, Mohammad Hatta, Abikoesno Tjokroseojoso, Agus Salim, Wahid Hasjim, Mohammad Yamin, Abdul Kahar Muzakir, Mr. AA Maramis, dan Achmad Soebardjo. Pada 22 Juni 1945, Pancasila dirumuskan dalam Piagam Jakarta (Jakarta Charter). 18 Agustus 1945 Pancasila Disahkan Sebagai Dasar Negara Satu hari setelah kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 18 Agustus 1945, Pancasila dinyatakan sah sebagai dasar negara dalam sidang BPUPKI. Pancasila disetujui ada dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara Indonesia yang sah. Hari Lahir Pancasila Secara resmi, tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila pada 2016 lalu. Saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikannya pada peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, di Gedung Merdeka, Bandung. Hari Lahir Pancasila juga diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 Presiden Joko Widodo (Jokowi). Setiap tanggal 1 Juni kemudian ditetapkan sebagai hari libur nasional Atikel ini di ambil dari https://news.detik.com/berita/d-5589197/melihat-kembali-sejarah-hari-lahir-pancasila/1 dengan judul Melihat Kembali Sejarah Hari Lahir Pancasila

Rabu, 26 Mei 2021

Pandemi Bisa Jadi Momentum Tingkatkan Kemampuan Pembelajaran Daring

Admin
Siaran Pers Nomor: 56/Sipers/V/2020 Jakarta – Pandemi COVID-19 telah mengubah sistem pendidikan di Indionesia. Menjelaskan hal tersebut, pelaksana tugas (plt.) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Nizam, menjadi narasumber pada seminar daring yang di gelar oleh Konsorsium Perguruan Tinggi Provider Indonesia (Kopertip) yang mengusung tema “Dampak COVID-19 pada Pendidikan Nasional”, Selasa (12/5). Pada kesempatan tersebut, Nizam memaparkan bahwa pandemi COVID-19 secara tidak langsung telah membuat banyak perguruan tinggi yang mengaplikasikan pembelajaran daring. Bahkan momentum pandemi COVID-19 ini memaksa banyak pihak untuk beradaptasi dengan pembelajaran daring dalam waktu yang sangat cepat. “Saat ini perguruan tinggi maupun swasta di Indonesia telah melakukan pembelajaran daring dengan baik. Meskipun ada keluhan kendala pada koneksi, namun semua berjalan baik,” ungkap Nizam. Berkaca dari pembelajaran daring yang ada di negara lain, saat ini pembelajaran daring di Indonesia memang belum 100% dikatakan sempurna. Nizam mengungkapkan, pembelajaran daring di Indonesia perlu memliki resources yang banyak, misalnya perguruan tinggi harus menyiapkan back up bagi mahasiswa dan mentor/tutor harus siap menjawab semua pertanyaan dari mahasiswanya. “Pembelajaran jarak jauh tidak cukup hanya melalui kuliah daring dan unggah materi perkuliahan, namun asesmen juga perlu dilakukan secara daring,” tuturnya. Melalui momentum pandemi Covid-19 ini, Nizam berharap semua orang dapat meningkatkan kemampuan pembelajaran daring yang seutuhnya. Nantinya setelah pandemi ini berakhir, pembelajaran daring akan tetap menjadi pengayaan. Menurutnya, pendidikan tetap memerlukan proses tatap muka karena tidak hanya melakukan transfer ilmu, namun tetap membutuhkan interaksi didalamnya. COVID-19 menyebar di Indonesia sejak Maret 2020. Meskipun membatasi ruang gerak manusia, namun Nizam tetap memandang sisi positifnya. Ia mengatakan bahwa adanya pandemi ini justru juga mempercepat penelitian yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa. Contohnya saja pembuatan alat ventilator yang biasanya membutuhkan waktu 1-2 tahun, kini dalam waktu singkat dapat diselesaikan. “Ini menjadi contoh positif yang juga memanfaatkan pembelajaran jarak jauh,” tutupnya. (YH/DZI/TJS/ALV) Humas Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud